SRI Media

Gerakan Tanam Pohon, Perhutani Gandeng Berbagai Pihak.

GARUT |SRI-Media.com,– Perhutani Divisi Regional Jawa Barat dan Banten bersama Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Cimanuk Citanduy gelar gerakan penanaman dan diskusi bersama di lokasi tanaman Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) pada Kesatuan Pemangkuan Hutan Garut,(27/05/2021).

Gelaran acara penanaman dihadiri Kadishut Prov Jabar, Evi Kustiawan bersama Kepala Departemen Perlindungan dan Kelola Sumber Daya Hutan kantor Divre Janten Sudaryana, Kepala Seksi RHL di BPDASHL, Eman Suherman, pemerhati lingkungan dari Forum DAS Tom Maskun yang  diikuti serentak jajaran karyawan KPH Garut, Tim Pelaksana Teknis,  Waslay Centra Multicom, Lembaga Masyarakat Desa Hutan Wangi Lestari  dan masyarakat setempat, Rabu (26/5).

Komando gerakan tanam oleh Kadishutprov dengan menanam bibit pohon Kayu Manis, sedangkan Kadep Ling Kelola SDH bibit pohon Pinus Merkusii dan Kasi RHL jenis pohon Alpukat, kemudian dilanjut stakeholder dan masyarakat sesuai bibit pohon yang disediakan di lokasi petak, 109 B, luas 66,31 hektar, Resort Pemangkuan Hutan Panyindangan, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Cisompet pada wilayah administrasi pemerintahan Desa Mekarwangi, Kecamatan Cihurip.

 

“Jawa Barat arah pembangunan menuju ‘green province’ harus diupayakan sekarang baik didalam maupun luar kawasan hutan”. Ujarnya.

“manusia membutuhkan 575 liter Oksigen setiap harinya, sedangkan setiap pohon yang ditanam bisa menghidupi 2 orang”. Ungkap Evi

Disela sesi diskusi dihadapan tim Pembina RHL, stakeholder yang hadir berikut anggota LMDH di lokasi tanaman RHL petak 130 b,  RPH Tilugeder, BKPH Sumadra,  pemerintahan Desa Jayamekar Kecamatan Pakenjeng, Rabu (26/5), Kadep Sudaryana mengatakan, bahwa  Perhutani Divre Janten sudah melaksanakan penanaman tanaman rutin sebanyak 21 juta pohon setiap tahunnya, diluar tanaman RHL.

“Terima kasih atas kerjasama semua unsur terkait, karena tanpa kolaborasi semua pihak Perhutani akan kesulitan membangun hutan”. Ucapnya.

Sedangkan Eman Suherman mengatakan, indikator tanaman RHL yang dinilai yaitu penyiangan, pendangiran, pemupukan, pemeliharaan Konservasi Tanah Dan Air (KTA) juga penyulaman termasuk ketersediaan bibit yang bersertifikat.

“hasil sertifikasi Perhutani sebagai BUMN yang ditunjuk dalam hal ini adalah kantor Divre Janten sesuai peraturan P.01 hasil penetapan Dirjen. Kami, bangga sudah dibantu Perhutani dalam pengembangan kelembagaan kelompok masyarakat yang berperan serta mewujudkan tanaman RHL”, ujarnya.

Pada kesempatan yang sama Tom Maskum dari Forum DAS mengatakan, kelembagaan kelompok harus memahami keberadaan pihak – pihak yang terlibat selain anggota, pendamping kelompok, Perhutani juga Pembina RHL yang siap untuk duduk bersama untuk diskusi kalau ada permasalahan.

“LMDH adalah bagian dari peran serta masyarakat, bagaimana kegiatan RHL ini dapat bermanfaat jangka pendek, pasca panen maupun jangka panjang”. Ujarnya.

Ketua LMDH Asep mengutarakan, bahwa masyarakat sangat terbantu adanya kegiatan RHL  disaat pandemi Covid masih terjadi. “Upah kerja per orang diatas 50 ribu rupiah per hari meringankan kesulitan masyarakat disaat susah mencari lapangan kerja”.Pungkasnya.**(Heri Arasid*).

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan