Desa Ponggang Gelar Hari Krida Tani dan Ruwatan Bumi: Tradisi Penuh Makna di Usia 345 Tahun

SUBANG, sri-media.com Masih dalam suasana perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Desa Ponggang, Kecamatan Serangpanjang, Kabupaten Subang, menggelar perayaan Hari Krida Tani atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Ruwatan Bumi, pada Senin, 25 Agustus 2025.

Ruwatan Bumi merupakan tradisi budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa dan daerah lainnya di Indonesia. Acara ini digelar sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan alam semesta atas hasil panen, rezeki, keselamatan, serta keberkahan yang diberikan sepanjang tahun.

 

Dalam sambutannya, Kepala Desa Ponggang, Asep Suryana, menyampaikan bahwa ruwatan bumi adalah tradisi luhur yang sarat makna spiritual, sosial, dan ekologis. Ia mengingatkan pentingnya menjaga kebersamaan dan nilai-nilai gotong royong di tengah arus modernisasi.

 

> “Kita harus tetap menjaga tali silaturahim dan mempererat kebersamaan. Kegotongroyongan adalah jati diri masyarakat kita yang tak boleh luntur oleh zaman,” ujar Asep.

 

Berikut beberapa tujuan dari kegiatan Ruwatan Bumi:

 

1. Ungkapan syukur atas hasil panen dan rezeki dari alam.

2. Menjaga keseimbangan alam dan menghindari bencana seperti gagal panen atau hama.

 

3. Menolak bala dan membersihkan unsur negatif dari kehidupan masyarakat.

4. Mempererat solidaritas sosial antarwarga melalui kegiatan gotong royong.

 

5. Pelestarian budaya lokal melalui pertunjukan seni dan ritual adat.

6. Penghormatan spiritual terhadap alam dan kekuatan mistis yang dipercaya menjaga bumi.

 

Desa Ponggang, yang kini telah berusia 345 tahun, memiliki nilai historis tinggi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dalam sejarahnya, desa ini menjadi tempat persembunyian Residen Mu’min dan para pejuang selama Agresi Militer Belanda I dan II. Tersembunyi di tengah hutan, keberadaan para pejuang tak terdeteksi oleh pasukan Belanda. Bahkan, pada 5 April 1948, Residen Mu’min tercatat mengadakan rapat penting di Desa Cimenteng, yang menjadi cikal bakal pembentukan Kabupaten Subang.

 

Tak hanya sejarah perjuangan, Desa Ponggang juga dikenal memiliki potensi wisata alam, yaitu Curug Ponggang, air terjun alami yang mengalir ke Sungai Cilamaya batas alami antara Kabupaten Subang dan Purwakarta.

Ruwatan Bumi tahun ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat, di antaranya Camat Serangpanjang Dede Setiawan, dan Kapolsek Sagalaherang AKP H. Irfan Taufik Firmansyah, S.Pd., MM, serta masyarakat Desa Ponggang yang antusias meramaikan acara.

Acara diawali dengan kesenian Jaipongan, dilanjutkan dengan pagelaran wayang golek semalam suntuk, menambah semarak perayaan dan memperkuat ikatan kebudayaan antarwarga.

 

Di akhir acara, Asep Suryana menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, tokoh masyarakat, dan warga yang telah bahu membahu menyukseskan kegiatan ini.

 

> “Mari kita lestarikan budaya dan tradisi kita. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan menjaga warisan leluhurnya,” tutupnya.

 

Semoga semangat tradisi Ruwatan Bumi terus tumbuh dan menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas di Desa Ponggang.

 

Andum Subekti

Tinggalkan Balasan