KSB Peringati Hari HAM 2025 ” Membidik ” Penjahat HAM

 

Bandung-sri-media.com- Kelompok Seniman Bandung, Rabu, 10 Desember 2025, bergerak menuju Saung Olah Seni Babakan Siliwangi Bandung (SOS Baksil) untuk memperingati Hak Azasi Manusia se-Dunia. Mereka menyatakan HAM sebagai sebagai hak yang dimiliki manusia sejak kelahirannya dalam kehidupan masyarakat.

Hak ini dimiliki tanpa perbedaan atas dasar bangsa, agama, ras, dan jenis kelamin karena sifatnya yang universal. Seniman Bandung di tengah derasnya hujan Desember itu, tampil bersemangat menggaungkan penegakan HAM dalam acara ini dalam tema “Kesaksian”.

Penyelenggara menampilkan dua seniman kelahiran Bandung dan aktivis alumni Seni Rupa ITB. Mereka kompak menyampaikan ketidaksetujuan mereka kepada Pemerintah yang memilih Soeharto sebagai pahlawan nasional. Tisna Sanjaya dan Arahmaiani, duduk berdua di panggung memberikan kesaksian masing-masing dan berbagi ide terkait HAM. Mereka adalah sosok seniman yang pernah berhadap-hadapan dengan rezim Soeharto dan “ABRI”.

“Kalau saat ini dia (Soeharto. Red-) sudah jadi pahlawan nasional, berarti kami adalah bajingan. Hari ini kami sampaikan, kita berdukacita atas HAM,”kata Arahmaiani dengan ramah, Bandung, 10 Desember 2025.

Arahmaiani (21 Mei 1961) yang akrab dipanggil Yani, adalah sosok yang mewakili kreativitas, keberanian dan seni itu sendiri. Diketahui, Yani menempuh pendidikan seninya di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Yani ditahan setelah selama sebulan karena mengejek peralatan militer, tank, dan senjata, dengan kapur tulis di aspal jalanan Kota Bandung. “Saya kemudian bisa dibebaskan dari tahanan ABRI karena diduga telah menjadi gila.Resiko selanjutnya saya harus DO dari ITB,”kenang Yani kepada pengunjung SOS Baksil.

Kemudian Yani melanjutkan kuliah di Paddington Art School, Sydney, Australia pada tahun 1985. Ia tidak surut, hingga kini tetap menghasilkan karya seni yang dipajang di berbagai belahan dunia. Ia tetap menjadi sosok berani yang memberikan inspirasi, dan ia juga aktivis pecinta lingkungan hidup.

Sementara itu Tisna Sanjaya, S.Sn., M.A., Ph.D. (lahir 28 Januari 1958) adalah lulusan Seni Rupa ITB. Ia banyak mendapat perhatian dari para pengamat seni rupa Indonesia dan bahkan internasional. Karya-karyanya banyak mengungkapkan tema-tema kepincangan sosial dan politik di Indonesia, terutama semasa Soeharto masih berkuasa. Pada zaman itu, kritik kepada pemerintah dan Soeharto akan dianggap subversif.

Dari beberapa sumber artikel, seniman Tisna masih dikenal kritis kepada pemerintah walaupun Soeharto sudah lengser. Intalasi seni The Special Prayer for the Death (Do’a Khusus Bagi yang Mati) termasuk salah satu karya Tisna yang kontroversial. Bermula dari pameran yang diselenggarakan oleh Komunitas Gerbong Bawah Tanah, di Babakan Siliwangi yang di awal tahun 2004. Karya itu dibakar oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) pada tanggal 5 Februari 2004, dengan alasan yang dikemukakan oleh Dada Rosada sebagai Walikota Bandung dengan pertimbangkan karena tempat tersebut dinilai kumuh dan banyak sampah, dan yang menjadi pertimbangan karya seni instalasi itu karena adanya teks yang seronok serta menyudutkan pihak TNI.

Dalam siaran pers yang ditandatangani oleh Kepala Penerangan KODAM III/Siliwangi Letkol. Drs. Bambang Siswoyo (HU. Pikiran Rakyat, 24 Februari 2004), menyebutkan bahwa “…. benda-benda yang dianggap sampah dan dibakar oleh Satuan Polisi Pamong Praja (SATPOL PP) Kota Bandung – namun diklaim sebagai karya seni oleh Tisna Sanjaya – adalah semacam baliho sederhana tersebut dari papan bilik itu, memuat tulisan kurang senonoh dan melecehkan institusi TNI. Di sana tertulis “WC untuk ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) Berak’s Rp200,-, Kencing Rp150,-, Ng’loco Rp225,-, ………… sebuah hal yang wajar tulisan tersebut dimusnahkan….”

Menanggapi itu, Solidaritas Seniman Seluruh Indonesia berkumpul di Bundaran Hotel Indonesia, untuk mendukung upaya Tisna Sanjaya untuk menempuh jalur hukum. Goenawan Muhammad seorang budayawan yang juga wartawan senior Indonesia membacakan pernyataan keprihatinan, atas pembakaran karya seni Tisna Sanjaya di kawasan Babakan Siliwangi pada tanggal 5 Februari 2004 oleh Satpol PP dan Kodim 0618/BS Kota Bandung.

Sebagai seorang seniman Tisna Sanjaya adalah sosok yang ingin terus melakukan kerja kreatifnya dalam dunia seni rupa, ia menyadari akan banyak yang halangan yang akan terjadi terhadap bentuk pilihan seninya, seperti yang diungkapkan oleh Jakob Sumardjo (2000: 80), bahwa seorang yang kreatif adalah seorang yang berani menghadapi resiko, yaitu resiko berhasil atau tidak berhasil dalam pencarian sesuatu yang belum ada, juga resiko ditolak oleh lingkungannya apabila kreativitasnya berhasil. Dalam sejarah banyak contoh bagaimana manusia kreatif, manusia penemu, mengalami nasib malang, diejek, disingkirkan, dipenjara, dihukum bakar oleh zamannya.

Monolog dari sastrawan alumni Unpad Hikmat Gumelar bersenyawa dengan penampil lainnya yakni mengekspresikan persoalan HAM di Indonesia dan termasuk Palestina. Hikmat Gumelar adalah seorang sastrawan Indonesia yang berhasil meraih Palestina World Prize 2024. Karya puisinya yang berjudul “Dari Mawar Reruntuhan ke Cerita Ingatan”, terpilih dari 300 buku lebih yang dikirim dari 27 negara, termasuk negara-negara Amerika Latin.

Di panggung HAM SOS Baksil ini, ia berperan sebagai seorang ayah yang tua dan lumpuh dalam sebuah rumah yang di dindingnya digantung foto bergambar Ernesto Che Guevara. Ia mempercakapkan HAM di hadapan pengunjung SOS Baksil itu.

Anaknya adalah martir HAM yang berjuang bersama sebuah ketapel yang kini ada digenggaman. Diiringi lagu They Dance Alone dari Sting, Hikmat di atas kursi roda bermonolog dengan bersarung, mengenakan baju koko dan peci Indonesia. Ia pun berhadap-hadapan dengan sebuah foto diri Jenderal Soeharto yang juga berpeci Indonesia.

Di tengah performance monolog itu, seorang pelukis bernama Hasan Pratama tampak sibuk dengan kuasnya memberi warna emas pada bingkai foto presiden ke-2 Republik Indonesia. Di penutup monolog itu, Hasan dan pengunjung terkejut ketika peluru ketapel, sebuah batu kerikil dari pemonolog Hikmat menyasar tepat pada foto itu dengan suara keras.

Dengan lantang pemonolog Hikmat berkata, pejuang HAM boleh ada yang mati, tapi perjuangan menegakkan HAM harus terus hidup dan bergelora di sanubari kita. Selanjutnya, tanpa aba-aba, Hasan sang pelukis itu dan beberapa penonton secara refleks ikut menendangi foto Soeharto itu.

Representasi Sejarah Kelam HAM

Menurut koordinator penyelenggara Rahmat Jabaril, para seniman Bandung merespon berbagai hal tindakan pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) dengan bentuk ekspresi musik, teater, baca puisi, performance art, tari, melukis, dan orasi melalui acara memeringati HAM di Babakan Siliwangi 2025.

Ada penampilan musik balada dari Ipit Saefidier Dimyati, Adew, Agus R. Sarjono, Mandrae Kobatik, dan Peluru Kata. Ada art performance dari Wail, Tony Broer, Agung Jack (Koloni Hitam), Yusef Muldiyana & Laskar Panggung, dan Arahmayani. Panggung pelukis oleh Rahmat Jabaril, Tisna Sanjaya, Hasan Pratama, dan Sanggar Olah Seni. Puisi/Sastra dipersembahkan oleh Ari J. Adipurwawidjana, Dedi Koral, Hikmat Gumelar, Rinrin Chandraresmi, Rikhaa Ocatavianty (Pesantren Darul Hidayah), Dini Destari, dan Federasi Mahasiswa Bandung, dan lain-lain.

“Bentuk ekspresi tersebut merepresentasikan ingatan pada sejarah kelam penguasa yag tidak berprikemanusiaan. Kekejaman kebijakan Pemerintah Orde Baru, seperti pembunuhan massal 1965, korban kerusuhan Malari 1973-1974, korban pembantaian masyarakat Talangsari 1989, korban kekerasan Haur Koneng Kuningan 1993, korban penembakan misterius (petrus) 1982-1985), kasus Tanjung Priok 1984, penghilangan paksa para aktivis pro-demokrasi 1997-1998, peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti 12 Mei 1998, korban kerusuhan pada masyarakat keturunan Tionghoa 13-14 Mei 1998, dan seterusnya. Berdasar itulah menolak mantan Presiden ke-2 jadi pahlawan, ”papar Rahmat Jabbaril dalam rilisnya.

Kata dia, perusakan lingkungan di Sumatera dan Jawa Barat yang mengakibatkan bencana banjir bandang dan menelan korban ribuan orang adalah bagian dari pelanggaran HAM. “Persoalan mafia tanah yang berdampak pada tindakan kekerasan pada rakyat, dan Negara tidak hadir. Hal itu pun bagian pelanggaran HAM.Tindakan keras Israel tanpa rasa kemanusiaan menyebabkan rakyat Palestina terbunuh, turut diekspresikan dalam acara ini, “tutup Rahmat Jabbaril. ***(Desmanjon)

Tinggalkan Balasan