
BANDUNG-sri-media.com Di balik suasana kampus yang seharusnya menjadi ruang intelektual dan pembebasan gagasan, nyatanya tak sedikit mahasiswa yang kini merasa tercekik oleh sikap dosen yang otoriter dan tuntutan tugas akademik yang tak manusiawi. Keluhan demi keluhan mengalir dari berbagai Individu di berbagai kelas terkhusus di kelas 1E S2 MPI, menunjukkan bahwa praktik mengajar Seorang dosen telah bergeser dari fungsi pendidikan menjadi beban terselubung yang melelahkan.
Para mahasiswa mengaku frustrasi menghadapi realitas pendidikan yang terlalu kaku, penuh tekanan, dan jauh dari pengertian terhadap kehidupan mereka sehari-hari.
“Tugas Menumpuk Tanpa Henti”
Salah satu keluhan terbesar yang diungkapkan mahasiswa adalah tugas mingguan yang menumpuk luar biasa.
“Setiap minggu ujung-ujungnya tugas didorong terus sampai jadwal MK lain kewalahan. Minggu ini tugas A belum selesai, minggu depan sudah ditambah 7 tugas lain ,” ujar Salah Satu mahasiswa Kelas 1E tersebut (31), mahasiswa semester 1 Paca jurusan MPI.
Menurutnya, sistem tugas seperti ini bukan saja menguras waktu, tetapi juga menghambat kesempatan mahasiswa untuk belajar secara mendalam, istirahat, atau beraktivitas Sehari-harinya.
Beban tugas yang disusun tanpa memperhatikan beban total mahasiswa sehari-hari menunjukkan kurangnya empati dan fleksibilitas dari dosen tersebut terhadap realitas hidup mahasiswa, ada yang jadi kepala sekolah, ibu rumah tangga, guru dan juga pejabat publik.
Otoritarianisme di Kelas: Tidak Kenal Waktu, Tidak Ada Ruang Diskusi
Keluhan kedua yang menyakitkan adalah perilaku dosen yang seakan tidak pernah mengenal batas waktu, selalu menuntut kepatuhan penuh di luar logika akademik.
Mahasiswa mengeluhkan sikap dosen yang bersikap otoriter bahkan terhadap hal-hal sepele, seperti penggunaan waktu, durasi tugas, hingga pertanyaan sederhana di kelas.
> “Kadang kita seperti merasa tidak punya waktu pribadi. Jam istirahat atau waktu kuliah lain bisa terus diinterupsi sesuka hati dosen tanpa kompromi,” ujar salah satu mahasiswi Pasca Jurusan MPI semester 1 kelas 1E (26).
Penelitian pendidikan dan akademik menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan otoriter dalam konteks pendidikan dapat merugikan kesejahteraan dan kreativitas mahasiswa, termasuk memicu kelelahan emosional dan tekanan psikologis. Studi-studi internasional menunjukkan bahwa bentuk hubungan dosen-mahasiswa yang terlalu otoriter dapat berdampak negatif pada kesejahteraan dan kinerja belajar mahasiswa, karena mereka merasa tekanan besar dan tak punya ruang untuk berekspresi kritis.
Kegiatan di Luar Akademik yang “Menghajar” Waktu istirahat Mahasiswa
Tak hanya di kelas, banyak mahasiswa yang juga merasa tertekan oleh kegiatan akademik yang “dipaksakan” masuk ke dalam jadwal mereka di luar jam kuliah.
Aktivitas seperti seminar yang jadwalnya bersinggungan dengan hari libur dan waktu istirahat, acara ini bukan kampus yang mengadakan, Dari jam 08.00 Pagi Sampai jam 23.59 malam.
“Kadang kami dikira cuma kuliah dan belajar saja, tanpa peduli bahwa banyak di antara kami juga punya pekerjaan, keluarga, dan kehidupan di luar kampus,” terang seorang yang hanya punya waktu libur di hari Minggu (28), yang aktif sebagai pekerja paruh waktu.
Tidak Ada Toleransi Terhadap Kesibukan Sehari-hari Mahasiswa
Keluhan lain, yang paling menyakitkan adalah sikap tanpa toleransi terhadap jadwal kehidupan pribadi mahasiswa. dosen tersebut menuntut kehadiran, tugas, dan kinerja yang seolah mengabaikan kenyataan bahwa mahasiswa juga manusia dengan kebutuhan fisik dan mental.
Para mahasiswa merasa bahwa sikap ini tidak hanya merusak keseimbangan hidup mereka, tetapi juga:
Membuat mereka tertekan secara emosional dan mental,
Mengurangi efektivitas pembelajaran karena fokus terganggu oleh beban di luar kelas,
Bahkan memicu kelelahan yang menghambat prestasi akademik.
Mahasiswa Bukan Robot Akademik
Para mahasiswa menyerukan agar kampus dan Prodi menyadari bahwa mereka bukan sekadar “produsen tugas” atau “penerima instruksi” pasif. Mereka menuntut perubahan budaya akademik yang lebih manusiawi, adil, dan memahami bahwa:
Tugas harus disesuaikan dengan beban total mereka,
Jadwal akademik harus memperhitungkan kehidupan mereka di luar kampus,
Dan yang terpenting, dosen perlu membangun hubungan sejajar yang menghormati martabat mahasiswa sebagai individu yang berpikir, bukan sekadar tunduk pada otoritas.
Kritik mahasiswa ini bukan sekadar basa-basi tetapi sebuah perlawanan — banyak riset pendidikan menunjukkan bahwa kepemimpinan inklusif, dialog terbuka, dan empati dalam hubungan dosen-mahasiswa justru meningkatkan motivasi belajar dan pencapaian akademik.
(Seorang mahasiswa Pasca Sarjana UIN SGD Bandung Jurusan MPI kelas 1E Semester 1 tahun Akademik 2025-2026)***Red dunk